Sunday, November 8, 2015

Mendoan (cerita asal-usul)

Beberapa waktu yang lalu , mendoan sempat menjadi #trending topik didaerah banyumas dan sekitarnya. #Save_mendoan
Hal ini karena ada seseorang yang mendaftarkan nama mendoan menjadi merek produk nya ke departemen HAKI.
Bhejoe sendiri sangat suka makanan yang satu ini, apa lagi kalau dimakan pada saat masih panas, sambel kecap atau cabe rawit dan ditemani secangkir kopi hitam wiss jan , uenak tenan.
Belakangan mendoan menjadi menu makan yang cukup sering disajikan dimeja makan Bhejoe . Selain karena mendoan merupakan makanan faforit , hal ini juga karena harga bahan makanan yang pada naik . Maaf curcol sedikit.

Pada posting kali ini bhejoe mencoba berbagi cerita mengenai asal-usul Mendoan (Versi bhejoe).

Cerita asal-usul mendoan pun dimulai :

Pada suatu waktu didaerah karesidenan banyumas ada keluarga kecil yang hidup seerhana. Sebut saja keluarga Pak Warso .
Hari itu cuaca cukup terik ketika pak Warso tengah membelah kayu di pekarangan disamping rumah .
Dengan suara lantang Pak Warso berteriak :
Pak Warso : Bu,......Bu ne , tulung gorengena tempe Bu. ( Bu, tolong gorengin tempe)
Dari dalam rumah terdengar sura Bu Warso menjawab ,

Bu Warso : Iya pak, tunggu sebentar ya...
Pak Warso : Iya Bu , Tapi tempene digoreng nganggo terigu , bosen tempe goreng biasa , aja kelalen kopi paite ya karo lombok cengise ? .
Bu Warso : Iya Pak, tunggu sedela maning ya pak, Ibu Arep tuku terigu disit .

Dua puluh lima menit tlah berlalu, Akhirnya Bu Warso memanggil suaminya .

Bu Warso : Pak...! iki lho tempe ne wis mateng. (Bu Warso sambil menaruh sepiring tempe goreng tepung dan secangkir kopi hitam di bale-bale depan rumah).
Pak Warso : ya.. sedela maning kiye , lagi tanggung.

Rupanya pak warso memilih untuk meneruskan pekerjaannya yang sedikit lagi rampung.
Tiga puluh menit kemudian Pak Warso selesai bekerja dan mencuci tanganya untuk segera menikmati makanan pesanannya,

Pak Warso : kene Bu, kancani bapak mangan tempe goreng tepung. ( pak warso memanggil sang istri )
Bu Warso : Ya Pak...( jawab Bu warso sambil mendekat dan duduk ke bale-bale).

Pak Warso : Kok goreng tempene “Mendo” Bu?.
Bu Warso : Mendo kepriwe sih pak?
Pak Warso : iki lho , mandan kurang garing terigune.( kata pak warso sambil menunjukan Goreng tempe tepung yang tepungnya sudah agak lembek).
Bu Warso : Lha bapak kat mau ditimbali ra ngeneh-ngeneh , pas nembe digoreng mau mandan garing . Ya wiss dima em bae disit ngesuk gawe maning sing lewih garing.

sambil menggigit tempe goreng tepung yang agak lembek, pak warso pun berkomentar
Pak Warso : “Wue Lah malah enak iki Bu, beda karo sing wingi-wingi (sambil terheran-heran).

Sejak saat itu, pak warso biasa pesan tempe “Mendo” yang artinya tempe digoreng dengan tepung tetapi tidak terlalu kering. Bisasanya pak warso pesenya seperti ini : Bu , tulung digawekna “tempe Mendo”.

Seiring berjalanya waktu kata-kata mendo juga digunakan untuk mengata-ngatain anak yang kurang pintar atau agak ketinggalan sama temennya misalnya :
Bocah kok mendo banget “. artinya anak ini agak telat paham.
Ada lagi kata-kata mendo untuk pemuda :
Jadi anak jangan Mendo, baru ketemu masalah kecil sudah takut”.

Kata-kata Mendo mungkin berawal dari kata “Kendor” ~ “Kendo” yang artinya ya...tidak kenceng. ( maaf kalau tidak tepat /salah mohon dikoreksi, maklum bhejoe tidak belajar etimologi )
Jadi Mendoan = tempe goreng tepung yang digoreng tidak terlalu kering, karena kalau digoreng sampai kering nanti berubah nama jadi Keripik tempe.

Demikian dongeng asal-usul Mendoan menurut Bhejoe,
terima kasih


Gambar diambil dari google / sidomi.com

No comments: