Monday, May 18, 2009

Ketika Bekerja Menjadi Sesuatu yang Membosankan...

Ketika bekerja menjadi sesuatu yang membosankan semuanya terasa berat.
Mau tidur, inget kerjaan..
Mau makan inget kerjaan..
(kayak lagu aja..)
Mau berangkat ke kantor, rasanya berat..
Mau masuk pintu kantor, rasanya berat..
Mau hidupin komputer kantor, rasanya berat..
Buka kerjaan, apalagi..
Ini tandanya anda terkena sindrom males kerja..
Sebabnya macem macem : bos yang semena mena, gaji nggak naik naik, kerjaan numpuk gak abis abis, suasana kantor yang mirip LP, temen kerja yang nyebelin, Keinginan pindah ke tempat kerja lain, dan ...........masih buanyak lagi..

Dalam hal pekerjaan hanya ada dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari.jika tidak bisa mencintai pekerjaan maka kita hanya akan memperoleh 5 “nge“ yaitu ngeluh ,ngedumel,ngegosip ngomel dan ngeyel.iya nggak??Punya masalah dengan semangat kerja??nggak usah stress gitu deh! anda tidak sendirian.banyak orang lain yang punya problem serupa.namun bukan tidak ada solusinya.!
berikut ada tips untuk males kerja

Etos pertama:kerja adalah rahmat

Apapun pekerjaan kita entah pengusaha pegawai kantor bahkan kenshusei pun adalah rahmat dari tuhan YME.anugrah itu kita terima tanpa syarat seperti halnya kita menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeserpun.bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah ,dengan bekerja setiap tgl muda atau tanggal tua sesuai dengan perusahaan anda kita akan menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.dengan bekerja kita punya banyak temen dan kenalan.punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan.dan masih banyak lagi.semua itu anugrah yang patut di syukuri.sungguh kelewatan jika kita merespons semua nikmat dengan keogah-ogahan.

Etos kedua:kerja adalah amanah

Apapun pekerjaan kita semua adalah amanah.mahasiswa mendapat amanah dari dosen.DPR mendapat amanah dari rakyat.Kenshusei dapat amanah dari perusahaan.etos ini membuat kerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela,misalnya korupsi dalam bebagai bentuknya

Etos ketiga;kerja adalah panggilan

Bukan berarti pekerjaan yang nunggu ada panggilan..maksudnya Apapun profesi kita semua adalah darma.contohnya seorang perawat memanggul darma untuk mengobati orang sakit.kenshusei mempunyai darma untuk menghasilkan pekerjaan yang bermutu.jika pekerjaan atau profesi di sadari sebagai panggilan kita akan memberikan yang terbaik.kita akan merasa tidak puas jika karya kita kurang baik hasilnya.

Etos keempat;kerja adalah aktualisasi

Apapun pekerjaan kita semuanya merupakan bentuk aktualisasi diri.meski kadang membuat kita lelah bekerja tetep merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa “ada“.bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan dari pada duduk bengong tanpa pekerjaan.Secara alami,aktualisasi diri itu bagian dari psikososial manusia .dengan bekerja misalnya seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa PD ketika berjumpa dengan teman baru cewek misalnya…’perkenalkan nama saya slamet kenshusei desu,keren
kan??

Etos kelima;kerja itu ibadah

Tak peduli apapun agama atau kepercayaan kita.semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah.kesadaran ini pada giliranya akan bisa bekerja secara ikhlas,bukan demi cari uang atau jabatan semata.

Etos ke enam:kerja adalah seni

Apapun pekerjaan kita bahkan seorang peneliti pun semua adalah seni.kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan sebuah hobi.

Etos ke tujuh:kerja adalah kehormatan

Seremeh apapun pekerjaan kita misalnya tukang las,tukang potong besi dll itu adalah sebuah kehormatan.jika bisa menjaga kehormatan dengan baik,maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita.percaya deh….

Etos ke delapan:kerja adalah pelayanan

Apapun pekerjaan kita semua bisa di maknai sebagai pengabdian kepada sesama.

Ya.. pada intinya untuk bisa tetep enjoy kita kudu bisa mencintai pekerjaan..itu emang agak susah…tapi,”imposible is nothing” Dalam hidup kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai tapi kita tidak punya pilihan lain tidak mungkin kita mau enaknya saja ada pepatah mengatakan “tak ada mawar yang tak berduri” ,

Ya itu dari sisi karyawan, dari sisi perusahaan bagaimana ? sudahkah perusahaan berusaha membangun motivasi kerja karyawannya ? berikut ada sedikit artikel yang bisa sedikit menggambarkan beberapa metode/ pendekatan agar motivasi kerja nggak melorot ..

Ada apa dengan kinerja karyawan ?

Kalau kita sepakat bahwa fungsi ideal dari pelaksanaan tugas karyawan dalam unit kerja adalah fungsi pelayanan, maka orientasi manajemen harus berfokus pada pelanggan. Maka konteks seharusnya adalah bahwa arah pelaksanaan tugas karyawan adalah memberikan pelayanan pada pelanggan, baik internal maupun exsternal.

Hal-hal di atas tidak mudah. Karena barisan terdepan dalam pemberian pelayanan adalah karyawan dengan berbagai persoalannya. Bukan tidak mungkin pelanggan memperoleh citra yang buruk tentang lembaga/organisasi, gara-gara pekerjaan pelayanan oleh karyawan yang jelek. Dari sinilah mungkin enter-point-nya. Harus fokus pada peningkatan kinerja karyawan. Karena tidak mungkin terjadi “fokus pada pelanggan” tanpa didahului oleh “fokus pada karyawan.”
Berbicara kinerja individual karyawan, ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi. Menurut Gibson, kinerja individual karyawan dipengaruhi oleh faktor motivasi, kemampuan dan lingkungan kerja.

Awalnya, adalah Motivasi Kerja

Faktor motivasi memiliki hubungan langsung dengan kinerja individual karyawan. Sedangkan faktor kemamampuan individual dan lingkungan kerja memiliki hubungan yang tidak langsung dengan kinerja. Kedua faktor tersebut keberadaannya akan mempengaruhi motivasi kerja karyawan. Karena kedudukan dan hubunganya itu, maka sangatlah strategis jika pengembangan kinerja individual karyawan dimulai dari peningkatan motivasi kerja. Diyah Dumasari Siregar ST, MM, dalam tulisannya menyatakan, bahwa karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karyawan memegang peran utama dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan. Apabila karyawan memiliki produktivitas dan motivasi kerja yang tinggi, maka laju roda pun akan berjalan kencang, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan. Di sisi lain, bagaimana mungkin roda perusahaan berjalan baik, kalau karyawannya bekerja tidak produktif, artinya karyawan tidak memiliki semangat kerja yang tinggi, tidak ulet dalam bekerja dan memiliki moril yang rendah.

Adalah menjadi tugas manajemen agar karyawan memiliki semangat kerja dan moril yang tinggi serta ulet dalam bekerja. Berdasarkan pengalaman dan dari beberapa buku, biasanya karyawan yang puas dengan apa yang diperolehnya dari perusahaan akan memberikan lebih dari apa yang diharapkan dan ia akan terus berusaha memperbaiki kinerjanya. Sebaliknya karyawan yang kepuasan kerjanya rendah, cenderung melihat pekerjaan sebagai hal yang menjemukan dan membosankan, sehingga ia bekerja dengan terpaksa dan asal-asalan. Untuk itu merupakan keharusan bagi perusahaan untuk mengenali faktor-faktor apa saja yang membuat karyawan puas bekerja di perusahaan. Pemahaman tentang jenis atau tingkat kebutuhan perorangan karyawan oleh perusahaan menjadi hal mendasar untuk meningkatkan motivasi. Dengan tercapainya kepuasan kerja karyawan, produktivitas pun akan meningkat.

Apa sebenarnya yg dibutuhkan karyawan? Menurut Maslow, jenjang kebutuhan manusia sebagai karyawan dari yang terrendah hingga yang tertinggi adalah :
Physiological Needs (Kebutuhan fisiologis/dasar/pokok) Safety Needs (kebutuhan akan rasa aman). Social/Affiliation Needs (kebutuhan untuk bersosialisasi) Esteem Needs (kebutuhan harga diri). Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri).

Apa yang bisa kita ambil manfaatnya?

Menurut Diyah lagi, dari tingkat kebutuhan manusia menurut Maslow tersebut, kompensasi dalam bentuk sentuhan emosional merupakan level yang lebih tinggi, dibandingkan kebutuhan fisik/dasar. Level tertinggi yaitu Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri) membuktikan bahwa karyawan lebih senang apabila diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan diakui oleh perusahaan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian, bahwa karyawan ingin mendapat kesempatan berkembang dan menunjukkan kemampuannya.

Masih ada hal lai, yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu pola kerja sama, ketersediaan alat dan faktor reward.

Pola Kerjasama
Pola kerjasama merupakan bentuk-bentuk hubungan antar karyawan dalam perusahaan, yang memungkinkan seseorang dapat memperoleh dan memberikan respon terhadap suatu tugas. Pola kerjasama dalam organisasi merupakan implikasi dari pola kepemimpinan. Pola kepemimpinan tertentu dapat melahirkan sistem kerjasama flat atau berjenjang dalam perusahaan.
Tidak bisa membayangkan seorang karyawan dengan kemampuan bagus, melaksanakan tugas dengan pola ketergantungan yang tinggi dengan unit lain, tetapi pola kerjasama yang terbagun dalam perusahaan adalah berjenjang dan rumit. Bisa dipastikan bahwa, penyelesaian pekerjaanya mengalami hambatan.
Dalam hal ini kinerja karyawan, pada akhirnya dihadapkan pada pola kerjasamanya.
Pola kerjasama, juga dapat menciptakan pola yang terbuka atau tertutup, baik dalam unit sendiri maupun dengan unit lain.
Pola kerjasama yang terbuka memungkinkan antar karyawan dalam unitnya sendiri maupun dengan unit lain dapat berhubungan dan saling membantu. Kondisi semacam ini hampir tidak ada masalah. Tetapi bagaimana jika yang terjadi adalah, pola kerjasama tertutup dalam unit sendiri, maupun dengan unit lain. Kondisi ini biasanya dipicu adanya ’ketidakadilan eksternal’ terhadap hal-hal yang diterima karyawan, baik dalam hal pembagian tugas, kesulitan pekerjaan, pola kepemimpinan, kekompakan, kecanggihan alat dan imbalan. Adanya ketidakadilan eksternal dapat menciptakan kondisi saling curiga antar karyawan atau antar unit kerja, yang selanjutnya dapat berdampak pada banyak hal. Bukan tidak mungkin, kalau kemudian dalam suatu unit kerja akan menilai unit-unit lain sebagai unit yang ’kering’ atau ’basah’ dan seterusnya.
Sehingga pemahaman manajemen dan itikad untuk melakukan perbaikan pola kerjasama dalam perusahaan akan memberi jalan bagi peningkatan kinerja, baik bagi kinerja individual maupun kinerja organisasi.

Ketersediaan alat kerja

Tahu nggak, kalau tersedianya alat kerja itu sangat mempengaruhi kinerja karyawan. Bagaimana tidak, jika seorang karyawan dengan pekerjaan, anggap saja misalnya, memeriksa sediaan (specimen) di laboratorium. Notabene pekerjaan tersebut menuntut tingkat ketelitian yang tinggi. Bagaimana jika tidak ada mikroskop? Bagaimana jika lensa mikroskop sudah buram, tidak jelas lagi. Dapat dipastikan bahwa pekerjaannya tidak dapat terselesaikan. Kalaupun selesai, bahwa pekerjaan itu membawa risiko mengalami error-rate yang tinggi.

Banyak pekerjaan dengan indikator kinerja di dalamnya, menuntut tersedianya alat dengan spesifikasi tertentu dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Ini memberi isyarat bahwa, seorang manajer harus mengetahui kebutuhan alat standar dan cukup tersedia bagi karyawan. Sehingga berbagai kegiatan pembelian dan perbaikan alat kerja harus memperhatikan standar kerja dan jumlah karyawan. Untuk pengadaan alat berdasarkan jumlah karyawan ini-jika tidak memungkinkan, dapat ditempuh upaya penjadwalan

Imbalan

Reward atau imbalan dalam membangun kinerja karyawan keberadaannya sangat vital. Tapi jangan dulu terburu-buru, punya pandangan bahwa untuk meningkatkan kinerja karyawan harus diberi gaji yang besar. Imbalan tidak selalu berwujud (tangible), ada imbalan yang tidak berwujud (untangible). Namun, baik berwujud atau tidak berwujud, reward harus ada dan tepat pemberiannya. Tidak semua pemberian yang dari manajer kepada karyawan dapat diartikan sebagai imbalan. Menurut Lawler, disebut imbalan jika seseorang menerima pemberian atas hasil kerjanya, baik berwujud maupun tidak, dan pemberian itu meningkatkan semangat kerjanya untuk melakukan pekerjaannya dengan lebih baik.

Berbagai macam cara, perusahaan menghargai karyawan dalam bentuk dan macam imbalan. Imbalan yang lazim adalah gaji. Namun pemberian gaji seringkali menimbulkan persoalan, jika tidak memperhatikan keragaman karyawan. Menurut Kumala I. Suryo, pemberian gaji harus digolong-golongkan. Penggolonganya paling tidak mempertimbangkan faktor-faktor pengetahuan, usaha-usaha, tanggung jawab, serta kondisi lingkungan yang dituntut agar pekerjaan terlaksana.
Selain gaji, beberapa perusahaan memberikan imbalan prestasi kerja-berdasarkan evaluasi kinerja (performance appraisal), Suggestion System yaitu penghargaan berdasarkan atas ide karyawan. Ada lagi pemberian penghargaan atas kehadiran karyawan dan masa kerja seperti disampaikan Tri Anna D dalam e-mailnya.
Lain diperusahaan kertas, lain pula di perusahaan telekomunikasi. Di perusahaannya tempat bekerja, Heru menyatakan bahwa sistem imbalan dan penghargaan untuk karyawan dilakukan dalam bentuk:
Masa Kerja berupa Uang Tunai dan Sertifikat/Medali Kinerja Individu berupa Promosi Tingkatan atau Jabatan Kinerja Organisasi berupa insentif atas pencapaian kinerja yang bervariasi Inovasi berupa Uang Tunai dan Sertifikat Pengakuan Apresiasi Prestasi Kerja Bulanan Apresiasi Unit Kerja Terbaik (melalui survey kepada customer internal) Karyawan Teladan Tahunan Mitra Kerja Teladan Tahunan Penghargaan Naik Haji/Ziarah untuk mereka yang aktif dalam kegiatan keagamaan
Selanjutnya untuk penyerahan setiap penghargaan tersebut dilakukan dalam satu forum pertemuan seluruh karyawan sehingga ada aspek recognizing-nya.

Sayangnya, banyak pekerjaan yang sudah dilaksanakan dengan baik tidak mendapat imbalan dari atasan. Kasus-kasus seperti ini sering memicu rasa frustasi pada karyawan. Namun banyak manajer merasa sudah memberikan imbalan, tetapi kenyataannya malah menimbulkan ketidaknyamanan pada karyawaan. Hal ini karena imbalan diberikan secara tidak tepat. Banyak contoh yang terjadi dalam pemberian penghargaan promosi jabatan dalam tugas baru di luar kota, sementara keluarga dan kehidupan rutinnya tempatnya berada jauh dari tempat kerja sekarang.

Selain ada-tidaknya dan ketepatan pemberiannya, masalah imbalan biasanya menyangkut nilai keadilan yang dirasakan oleh karyawan. Dalam pemberian imbalan harus dipertimbangkan nilai keadilan internal maupun eksternal. Secara internal, ketika menerima imbalan dari atasannya, seorang karyawan akan menilai apakah pemberian itu sebanding atau tidak dengan pengorbanan yang sudah ia keluarkan. Sering terlihat, seorang karyawan menggerutu, dan menilai betapa pelit atasanya dalam memberi imbalan. Sementara karyawan merasa bahwa perjuangannya sangat maksimal untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Karyawan merasa tidak adil penghargaan yang diterimanya, jika dibandingkan pengorbanan yang sudah dikeluarkan.

Kalaupun tidak ada masalah dalam keadilan internal, pemberian imbalan kadang bermasalah dalam keadilan eksternalnya. Secara eksternal, ketika karyawan menerima imbalan dari atasanya, ia akan membandingkan dengan imbalan yang diterima orang lain-yang selevel, baik dalam unit sendiri maupun di unit kerja yang lain. Jika karyawan merasa bahwa imbalan yang diterimanya dirasakan masih lebih rendah dari orang lain sebagai pembandingnya, maka masaih ada masalah keadilan eksternal dalam sistem imbalannya.

Maknanya, bahwa dalam membangun kinerja karyawan harus ada imbalan. Imbalan dapat berwujud maupun tidak. Pemberiannya harus tepat, menurut waktu mapun kebutuhan karyawan. Sistem pemberiannya harus dapat dirasakan adil, baik secara internal maupun eksternal. sipppppp....!!!!

http://republikbm.blogspot.com


No comments: